Minggu, 22 Februari 2009

Batuk dan sesak nafas

BAB I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang
Serangan asma merupakan salah satu kedaruratan yang dapat menyebabkan kematian. Dilaporkan mortalitasnya berkisar 1-3 %. Banyak faktor yang terlibat dalam terjadinya kematian, tetapi yang jelas 77 dari 90 kasus kematian karena asma sebenarnya dapat dicegah. Serangan asma berat merupakan episode dari memburuknya gejala asma secara progresif berupa sesak, batuk, mengi, dada berat atau salah satu gejala yang disebutkan diatas. Dahulu episode ini sering disebut sebagai status asmatikus suatu istilah yang sekarang jarang dipakai lagi. Adapun status asmatikus menurut Kavuru dan Wiederman adalah asma eksaserbasi akut berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Diagnosis asma akut berat didasarkan adanya riwayat serangan asma yang berulang-ulang, faktor pencetus yang biasanya oleh karena infeksi saluran napas, respon terhadap obat anti asma serta riwayat alergi pada penderita. Kesulitan mungkin terjadi bila serangan asma beru pertama kali sehingga harus dibedakan dengan gagal jantung.
Dalam laporan kali ini akan dijelaskan mengenai anatomi, fisiologi, histologi, dan patofisiologi dari sistem respirasi. Hal tersebut akan dibahas dalam tinjauan pustaka sedangkan dalam pembahasan akan dijelaskan mengenai hubungan hasil pemeriksaan yang dilakukan dengan keluhan utama pasien. Harapan penulis agar laporan ini dapat digunakan sebagai sumber informasi dan mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan skenario ini.

2. Rumusan Masalah
2.1. Apakah yang menyebabkan batuk berdahak, sesak nafas yang
mendadak,dan disertai demam?
2.2. Apakah gejala gejala tersebut berhubungan dengan debu rumah?
2.3. Apakah indikasi ditemukannya wheezing pada auskultasi?
2.4. Apakah arti gambaran honeycomb appearance pada rontgen toraks?
2.5. Bagaimana anatomi, fisiologi, dan histologi pulmo manusia normal?
2.6. Bagaimanakah mekanisme terjadinya batuk?
2.7. Bagaimana penatalaksanaan penderita penyakit sistem respirasi?

3. Tujuan dan Manfaat Penulisan
3.1. Mengetahui anatomi, histologi, dan fisiologi dari sistem respirasi
terutama paru-paru dan bronkus.
3.2. Mengetahui patogenesis penyakit asma dan hubungannya dengan
penyakit kakaknya.
3.3. Mengetahui working diagnosis untuk pasien tersebut, pemeriksaan
penunjang dan laboratorium, prognosis serta penatalaksanaan.

4. Hipotesa
Pasien tersebut menderita Asma Bronkial.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


ANATOMI
Perjalanan udara saat inspirasi bermula dari apertura nasalis anterior → cavitas nasi (concha nasalis superior untuk pembau, concha nasalis medius dan concha nasalis inferior untuk conditioning) → vestibulum nasi (dalam vestibulum nasi ini terdapat fibricea atau bulu hidung yang berfungsi sebagai penyaring partikel-partikel kecil seperti debu yang masuk bersama udara saat inspirasi) → choana → nasopharing → larynx → trachea (terdapat cartilago dan pars membranacea) → bronchus primer → bronchus sekunder → bronchus tertius → bronchiolus (disini sudah tidak ada cartilago) → bronchiolus terminalis (masuk zona respiratorius) → brochiolus repiratorius → ductus alveolaris → saccus alveolaris → alveolus.
(Keluarga Besar Asisten Anatomi, 2004)

FISIOLOGI
Proses respirasi dapat dibagi menjadi empat golongan utama :
1. Ventilasi paru-paru, yaitu pemasukkan dan pengeluaran udara di antara atmosfir dan alveolus paru-paru
2. Difusi oksigen dan karbondioksida di antara alveolus dan darah
3. Transport oksigen dan karbondioksida di dalam darah dan cairan tubuh ke dan dari sel
4. Pengaturan ventilasi dan segi-segi respirasi lainnya
Paru-paru dapat dikembangkan dan dikempiskan dengan dua cara (1) gerakan turun dan naik diafragma untuk memperbesar atau mengecilkan rongga dada dan (2) elevasi dan depresi iga-iga untuk meningkatkan dan menurunkan diameter anteroposterior rongga dada.
(Guyton, 1995)

HISTOLOGI
Sistem respirasi secara fungsional terdiri atas bagian konduksi dan bagian respirasi. Batas antara kedua bagian itu adalah bagian transisi tepatnya pada segmen bronkiolus respiratorius. Bagian konduksi meliputi rongga hidung, sinus paranasal, nasofaring, laring, trakhea, dan cabang-cabang bronkus sampai dengan bronkiolus terminalis. Selanjutnya adalah bagian respirasi yaitu mulai ductus alveolaris hingga alveolus.
(Luiz Carlos Junqueira, 2007)

MEKANISME BATUK
Refleks batuk penting untuk kehidupan, karena batuk merupakan cara jalan ke paru dipertahankan bebas dari benda asing. Impuls aferen berasal dari jalan pernafasan, terutama melalui nervus vagus ke medulla oblongata (MO). Di sana rangkaian kejadian automatis dicetuskan oleh sirkuit neuron MO, menyebabkan efek berikut :
1. Sekitar 2,5 liter udara diinspirasikan,
2. Epiglotis menutup dan pita suara menutup rapat untuk menjebak udara di dalam paru-paru,
3. Otot-otot perut berkontraksi kuat, mendorong diafagma sementara otot-otot ekspirasi lain juga berkontraksi kuat (tekanan intrapulmonal meningkat ≥ 100 mmHg),
4. Pita suara dan epiglotis tiba-tiba terbuka lebar sehingga udara yang tertekan di dalam paru-paru meledak keluar,
5. Kompresi kuat paru-paru juga mengempiskan bronki dan trakea, lalu benda asing keluar.
(Guyton, 1995)

ASMA BRONKIAL

Definisi
Asma bronkial adalah penyakit saluran pernapasan dengan ciri-ciri saluran pernapasan tersebut akan bersifat hipersensitif (kepekaan yang luar biasa) atau hiperaktif (bereaksi yang berlebihan) terhadap bermacam-macam rangsangan, yang ditandai dengan timbulnya penyempitan saluran pernapasan bagian bawah secara luas, yang dapat berubah derajat penyempitannya menjadi normal kembali secara spontan dengan atau tanpa pengobatan.

Morfologi
Gambaran makroskopis paling mencolok adalah oklusi bronkus dan bronkiolus oleh sumbat mukus yang kental dan lengket. Secara histologis, sumbat mukus ini mengandung gelungan epitel yang terlepas (spiral curschmann). Juga terdapat banyak eosinofil dan kristal Charcot-Leyden (kumpulan kristaloid yang terbentuk dari protein eosinofil).

Patofisiologi
Serangan asma ditandai dengan dispnea berat disertai mengi, kesulitan utama ditemukan sewaktu penderita ekspirasi. Bronkus mengalami konstriksi dan terisi oleh mukus dan debris. Pada kasus biasa, serangan berlangsung 1 hingga beberapa jam dan mereda spontan atau dengan pengobatan, berupa bronkodilator atau kortikosteroid. Hiperkapnia, asidosis, dan hipoksia berat yang timbul dapat menyebabkan kematian. Pada pemeriksaan fisik sering didapatkan bunyi wheezing.

Gejala
1. Sesak napas hebat
2. Mengi, Batuk
3. Rasa berat di dada
4. Dapat terjadi gagal napas
(PPGD PARU, 2007)
Pemeriksaan
1. laboratorium : eosinofil meningkat
2. radiologis : tidak ada tanda khas
3. faal paru : VEF1 menurun
4. uji alergen
5. uji profokasi bronkus
6. anamnesis
7. auskultasi

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk penyakit asma ini ada beberapa tahapan, yaitu :
1. Penilaian awal
- subyektif
- pemeriksaan fisik
- APE dan VEP­1
- Saturasi oksigen
- Analisis gas darah
- Menentukan derajat berat serangan
2. Pengobatan awal
- Inhalasi agonis beta-2 shart acting 3 x setiap 20 menit atau injeksi adrenalin
0,3 mg sc dan injeksi terbutalin 0,25 mg sc
- di ukur saturasi oksigen, ³ 90 %
- Kortikosteroid sistemik bila tidak ada respons segera, mendapat steroid oral,
serangan berat.
- Sedativa merupakan kontra indikasi
3. Ulang Penilaian
- Pemerikasaan fisik
- APE
- Saturasi oksigen
4. Episode Sedang
- APE 60 –80 % prediksi
- Pemeriksaan fisik : gejala sedang.
- Inhalasi agonis beta-2 setiap 60 menit
- Pertimbangan kortikosteroid
- Teruskan pengobatan 1-3 jam sampai ada perbaikan
5. Episode berat
- APE < 60% prediksi
- Pemeriksaan fisik
- Riwayat pasien berisiko tinggi
- Tidak respon dengan terapi awal
- Inhalasi agonis beta –2 setiap jam
- Oksigen
- Aminofilin drip
- Pertimbangan agonis beta-2 SC, IM, IV
6. Respons baik
- Bertahan 60 menit sesudah terapi awal
- Pemeriksaan fisik normal
- APE > 70%
- Tidak ada kecemasan
- Saturasi O2 > 90 %
7. Pemulangan pasien
- Teruskan terapi inhalasi agonis beta –2
- Pertimbangkan kortikosteroid oral
- Edukasi penderita seperti pemakaian obat yang tepat, rencana pengobatan
jangka panjang dan kontrol teratur
8. Respons tidak lengkap dalam 1-2 jam
- Riwayat pasien berisiko tinggi
- Pemeriksaan fisik gejala ringgan sampai sedang
- APE < 70%
- Saturasi O2 tidak membaik
9. Rawat di rumah sakit
- Inhalasi agonis beta-2 atau antikolinergik
- Kortikosteroid sistemik
- Oksigen
- Infus aminofilin
- Pemantauan APE, saturasi O2, nadi dan theophyline
10. Respon buruk dalam 1 jam
- Riwayat pasien berisiko tinggi
- Pemeriksaan fisik gejala berat, tidak sadar, kejang
- APE < 30 %
- PaCO2 > 45 mmHg
- PaO2< 60 mmHg
11. Rawat di ICU
- Inhalasi agonis beta –2 dan antikolinergik
- Kortikosteroid iv
- Pertimbangan agonis beta-2 sc,im,iv
- Oksigen
- Pertimbangkan infus aminofilin
- Kemungkinan intubasi dan ventilasi mekanik
12. Pemulangan pasien
- Bila APE > 60% nilai prediksi dan bertahan dengan pemberian agonis beta-2
inhalasi atau oral
13. Perawatan di ICU
- Bila tidak ada perbaikan dalam 6-12 jam
Kortikosteroid diberikan pada asama eksaserbasi akut yang berat, beberapa keuntungan pemberian steroid ini adalah :
- Kortikosteroid sistemik mempercepat perbaikan
- Kortikosteroid oral biasanya sama efektifnya dengan intravena
- Bila ada mual dan muntah maka deberikan steroid intravena
- Kortikosteroid sistemik diberikan pada serangan sedang dan berat
- Kortikosteroid mengurangi angka kekambuhan
(PPGD PARU, 2007)
BAB III
PEMBAHASAN


Batuk yang tidak berkurang sejak tiga hari kemungkinan disebabkan adanya benda asig yang masuk ke dalam tractus respiratoria. Benda asing tersebut bisa bermacam-macam bentuknya, misalnya debu rumah. Refleks batuk yang timbul disebabkan karena Impuls aferen yang berasal dari jalan pernafasan, terutama melalui nervus vagus ke medulla oblongata (MO).
Timbulnya dahak yang menyertai batuk disebabkan oleh adanya sel epitel berlapis mukus bersilia yang membantu membersihkan saluran pernafasan, karena silia bergetar ke arah faring dan menggerakkan mukus seperti suatu lembaran yang mengalir terus-menerus. Jadi partikel asing kecil dan mukus digerakkan dengan kecepatan satu sentimeter per menit sepanjang trakea ke faring. Benda asing di dalam saluran hidung juga dimobilisasikan ke laring.
Sesak nafas yang terjadi pada penderita lebih disebabkan karena reaksi hipersensitifitas terhadap suatu alergen, yang pada skenario adalah debu. Partikel debu sangatlah kecil, sulit dilihat dengan mata telanjang. Jika seseorang yang alergi terhadap debu secara tidak sengaja menghirupnya, maka tubuh akan meresponnya pertama kali dengan refleks batuk. Kemudian sistem imun tubuh meresponnya dengan melepaskan mediator-mediator inflamasi, seperti IgE, sel mast, Sel Th2, dan eosinofil. Akibatnya akan terjadi sesak nafas yang disebabkan oleh penyempitan bronkus yang berlebihan. Penyakit respirasi dengan riwayat seperti ini adalah asma ekstrinsik (disebabkan oleh reaksi hipersensitif tubuh terhadap suatu alergen, debu). Selain sesak nafas, tubuh juga akan mengalami kenaikkan suhu (demam) akibat melepaskan berbagai mediator inflamasi tadi.
Pada pemeriksaan fisik auskultasi penderita ditemukan adanya bunyi wheezing. Bunyi tersebut merupakan bunyi yang khas terdapat pada penyakit asma. Sang kakak juga menderita penyakit paru kronik yang pada rontgen toraksnya menunjukkan gambaran honeycomb appearance tetapi tidak pernah ditemukan wheezing. Gambaran yang seperti sarang lebah tersebut merupakan salah satu ciri khas foto rontgen pada bronkiektasis.
Bronkiektasis adalah pelebaran menetap bronkus dan bronkiolus akibat kerusakan otot dan jaringan elastik penunjang, yang disebabkan oleh atau berkaitan dengan infeksi nekrotikans kronis. Bronkiektasis bukanlah suatu penyakit primer, tetapi lebih merupakan akibat obstruksi atau infeksi persisten yang ditimbulkan oleh berbagai sebab.









BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan yang dapat diambil dari pembahasan diatas antara lain adalah (1) dari gejala-gejala yang ada, penderita kemungkinan besar menderita asma yang disebabkan oleh reaksi hipersensitifitas/alergi terhadap debu rumah, (2) kakak penderita kemungkinan menderita bronkiektasis yang diketahui dengan adanya gambaran honeycomb appearance pada rontgen toraksnya, (3) penyakit asma penderita bersifat familial, tetapi tidak ada hubungannya dengan penyakit paru kronik sang kakak, (4) wheezing merupakan suara khas asma yang ditemukan pada pemeriksaan auskultasi yang disebabkan oleh penyempitan bronkus.
Saran yang dapat diberikan penulis adalah (1) penderita diberi edukasi untuk menghindari agen pencetus terjadinya sesak nafas (asma), (2) jika kambuh lagi, diberikan bronkodilator dan kortikosteroid untuk mengurangi gejala, (3) sang kakak diberi antibiotik untuk membunuh bakteri patogen yang menjadi penyebab pada bronkiektasis, (4) penderita disarankan untuk memakai masker supaya bakteri yang ada tidak menular lewat udara.




























BAB V
DAFTAR PUSTAKA


Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta : EGC
Guyton, A.C. & Hall, J.E., 2006. Text Book of Medical Physiology. 11th ed. Philadelphia : WB Saunders company
Pabst, R & Putz, R. 2006. Atlas Anatomi Manusia Sobbota Edisi 22 Jilid 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC)
Price,Sylvia A., Wilson Lorraine M. 2006. Patofiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC
Junqueira,Luiz Carlos., et al. 2007. Histologi Dasar Teks & Atlas. Jakarta : EGC
Robbins, et al. 2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar