Kamis, 19 Februari 2009

Program penanggulangan TBC

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tuberkulosis merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Insidensi TBC dilaporkan meningkat secara drastis pada dekade terakhir ini di seluruh dunia. Demikian pula di Indonesia. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai “Global Emergency”. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002. Sebagian besar kasus TB (95%) dan kematiannya (98%) terjadi di negara-negara berkembang. Diantara mereka, 75% berada pada usia produktif (20-49 tahun). Pemberantasan tuberculosis sebelumnya kurang memuaskan. Oleh karena itu, sejak 1995, program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia mengalami perubahan manajemen operasional, disesuaikan dengan strategi global yanng direkomendasikan oleh WHO. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sampai dengan tahun 2001, 98% dari populasi penduduk dapat mengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini diartikan sebagai "pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan" setiap hari.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah melakukan kegiatan laboratorium lapangan, diharapkan mahasiwa mampu :
1. Mendemonstrasikan algoritma penemuan suspek dan kasus TB dengan strategi DOTS
2. Mendemonstrasikan alur pencatatan dan pelaporan kasus TB dengan strategi DOTS
3. Melakukan perhitungan angka keberhasilan pengobatan kasus TB
4. Mendemonstrasikan cara pemantauan dan evaluasi pengobatan kasus TB dengan strategi DOTS

BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN

Kegiatan Lapangan ini dilaksanakan 3 hari dalam 3 minggu, yaitu setiap hari Kamis, tepatnya pada tanggal 4, 11, dan 18 Desember 2008, bertempat di Puskesmas Kartosuro II, Kabupaten Sukoharjo.
Kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Tanggal 4 Desember 2008, mendemonstrasikan penentuan suspek dan kasus TB dengan strategi DOTS.
2. Tanggal 11 Desember 2008, mendemonstrasikan pemantauan pengobatan kasus TB dengan strategi DOTS.
3. Tanggal 18 Desember 2008, evaluasi oleh instruktur dan konsultasi laporan.



BAB III
HASIL

Data-data yang penulis peroleh dari kegiatan tanggal 4 Desember 2008 adalah :
1. Bulan Januari sampai Maret 2008 ditemukan 6 kasus (3 kasus baru, 1 kasus pindahan, 1 kasus kambuh, 2 BTA positif).
2. Bulan April sampai Juni 2008 ditemukan 8 kasus (7 kasus baru, 1 kasus pindahan, 3 BTA positif).
3. Bulan Juli sampai September 2008 ditemukan 7 kasus (semua kasus baru, 3 BTA positif).
Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek
· Januari-Maret = 33,33%
· April-Juni = 37,5%
· Juli-September = 42,86%

BAB IV
PEMBAHASAN



Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Insidensi TBC dilaporkan meningkat secara drastis pada dekade terakhir ini di seluruh dunia. Demikian pula di Indonesia. Dengan penduduk lebih dari 200 juta orang, Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan China dalam hal jumlah penderita di antara 22 negara dengan masalah TBC terbesar di dunia.
Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain:
a. Kemiskinan
b. Kegagalan progam penanggulangan TB di mana hal ini dikarenakan:
- Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan program penanggulangan TB
- Tidak memadainya organisasi pelayanan TB
- Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat tidak standar)
- Salah persepsi terhadap manfaat dan efektivitas vaksinasi BCG
- Infrastruktur kesehatan yang buruk
Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara nasional di seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) terutama puskesmas selain di Rumah Sakit Pemerintah dan swasta, BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru) serta Praktek Dokter Swasta (PDS) dengan melibatkan peran serta masyarakat secara paripurna dan terpadu. Dalam rangka menyukseskan pelaksanaan penanggulangan TBC, prioritas ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan, penggunaan obat yang rasional dan paduan obat yang sesuai dengan strategi DOTS. Target program adalah angka konversi pada akhir pengobatan tahap intensif minimal 80%, angka kesembuhan minimal 85% dari kasus baru BTA positif, dengan pemeriksaan sediaan dahak yang benar (angka kesalahan maksimal 5 %). Strategi DOTS, sesuai rekomendasi WHO, terdiri atas 5 komponen:
1) Komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana
2) Diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis
3) Pengobatan dengan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO)
4) Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin
5) Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TBC.
(Depkes RI, 2000)
Cara ini cukup efektif dan memberikan keuntungan dimana ketika seorang warga merasa memiliki gejala dan tanda TB, dengan kesadarannya sendiri datang ke Puskesmas. Orang seperti ini biasanya akan lebih kooperatif dan patuh menjalani tahap penatalaksanaan.
Program penanganan TB di Puskesmas Kartasura dalam hal penentuan suspek dapat dinilai dengan indikator di bawah ini :
1. Proporsi pasien TB BTA positif diantara suspek.
Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara suspek yang diperiksa dahaknya.
Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. Angka normal sekitar 5-15%. Berarti, mutu penemuan, diagnosis, dan kepekaan menetapkan kriteria suspek di Puskesmas Kebakkramat I adalah bagus/ baik. Penjaringan suspek tidak terlalu longgar atau pun ketat, juga dalam pemeriksaan laboratorium sedikit negatif dan positif palsu.
2. Angka penemuan kasus (CDR).
Setelah menemukan pasien, mendiagnosis, dan mengklasifikasikan, yang tidak kalah penting adalah pengobatan pasien dan pemantauannya. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi dengan jumlah yang cukup dan dosis tepat sesuai kategori pengobatan. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat (PMO). pengobatan tuberkulosis diberikan dalam dua tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pada tahap intensif (awal), pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat; bila pengobatan tahap intesif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TB positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. Pada tahap lanjutan, pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama dan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.Untuk mempermudah dan meningkatkan kepatuhan pasien dalam minum obat, diberikan obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Namun, terkadang ada pasien yang alergi terhadap salah satu obat dalam kombinasi tersebut, sehingga OAT-KDT tidak dapat digunakan.



BAB V
PENUTUP

KESIMPULAN
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa.
Gejala sistemik/umum : demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, penurunan nafsu makan dan berat badan, batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah), perasaan tidak enak (malaise), lemah.
Penatalaksanaan TB membutuhkan waktu yang lama sehingga membutuhkan PMO atau mengguanakan strategi DOTS.
Strategi DOTS sudah terbukti berhasil.
Di Puskesmas Kartasura II didapatkan angka dalam tahun ini didapatkan 21 kasus.
Secara umum penggulangan TB di Puskesmas Kartasura II sudah baik. Namun, dalam hal penjaringan suspek masih kurang.

SARAN
Karena angka penemuan kasus di Puskesmas Kartasura masih rendah, sebaiknya petugas lebih detail lagi dan mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak untuk dapat menemukan pasien sehingga dapat tercapai angka penemuan sesuai target.



DAFTAR PUSTAKA


1. Tim Field Lab FKUNS. 2008. Keterampilan Pengendalian Penyakit Menular Tuberkulosis. Surakarta : FKUNS.
2. Depkes RI. 2007. Pointers Menkes Menyambut Hari TBC Sedunia 2007. www.depkes.go.id. (Diakses 12 Desember 2008).
3. Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed: Ke-6. Jakarta: EGC.













Lampiran. Data register pasien TB Puskesmas Kartasura II Kabupaten Sukoharjo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar